Waspada Mengkonsumsi olahan Kambing

23
Agu
2018

Waspada Mengkonsumsi olahan Kambing

Waspada Mengkonsumsi olahan Kambing

Dilansir dari laman BBC Indonesia, Di masyarakat, daging kambing punya reputasi buruk sebagai sumber lemak dan kolesterol yang berbahaya bagi tubuh. Banyak orang juga berpikiran bahwa ia memicu tekanan darah, dan karena itu perlu diwaspadai pengidap hipertensi. Namun anggapan ini tidak didukung oleh bukti ilmiah.

Sebenarnya, daging kambing merupakan daging yang dianggap paling sehat di antara daging merah lainnya. Berdasarkan data dari Departemen Pertanian AS, daging kambing (per 100g) menghasilkan kalori paling sedikit dibandingkan daging ayam, sapi, babi, dan domba. Kandungan lemak dan kolesterol pada daging kambing pun paling rendah, namun kandungan proteinnya setara dengan daging merah lainnya.

Dokter spesialis gizi Samuel Oetoro menduga rumor tersebut bermula dari sensasi hangat yang dirasakan banyak setelah memakan hidangan daging kambing akibat efek termogenik. Efek termogenik ialah panas yang dihasilkan dari metabolisme suatu bahan makanan dalam tubuh. Dan daging kambing memberikan efek termogenik yang lebih tinggi dari daging merah lainnya.

Adapun soal dugaan efeknya terhadap tekanan darah, sebuah laporan ilmiah pada tahun 2014 menunjukkan bahwa daging kambing ternyata bukanlah pemicu hipertensi. Dalam penelitian yang diterbitkan di Asian-Australasian Journal of Animal Sciences, Sunagawa, dkk memberi makan mencit berusia 15 minggu dengan pakan yang mengandung 20% daging kambing dan 0,3% garam dan mengukur tekanan darahnya secara rutin.

Hal tersebut dibuktikan dalam penelitian Sunagawa, dkk pada tahun 2014. Kelompok mencit yang diberi pakan dengan kadar garam 3-4% menunjukkan tekanan darah yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan kelompok yang diberi pakan dengan kadar garam 0,3% setelah lima pekan. Untuk memastikan efek ini, pada eksperimen kedua para peneliti mengurangi kadar garam menjadi 0,3%, dan hasilnya tekanan darah para mencit tersebut kembali ke tingkat normal (normotensif).

Berdasarkan pengamatan di sejumlah warung hidangan kambing di Jakarta, satu mangkuk sup kambing rata-rata diberi satu sendok teh garam, ditambah satu sendok teh mecin. Satu sendok teh berarti sekitar 5-6 gram, tepat di batas konsumsi harian yang disarankan Kementerian Kesehatan. Garam juga dapat berasal dari kecap yang menjadi salah satu bumbu utama atau penyedap hidangan daging kambing.

Samuel menjelaskan, unsur Natrium atau Sodium (Na) dalam garam (NaCl) ialah elektrolit yang berfungsi mengatur air di dalam tubuh. Natrium dalam jumlah besar berarti semakin banyak air yang disimpan dalam pembuluh darah, inilah yang menyebabkan tekanan darah meningkat. Dalam satu sendok teh (5 gram) garam, terkandung Natrium sebanyak 2 gram.

Menurut dokter spesialis gizi Samuel Oetoro ketimun dan lalapan mengandung serat, yang dapat menyerap sebagian makanan yang kita makan. Tapi seharusnya sayuran atau buah yang berserat dimakan sebelum, atau bersamaan dengan hidangan utama, bukan setelahnya seperti yang biasa dilakukan orang Indonesia. "Sebelum memakan makanan yang tinggi lemak, tinggi garam, makanlah buah dan sayur," ia menyarankan.

Makan sehat, berpikir sehat, istirahat sehat, aktivitas sehat, olahraga dan lingkungan sehat, serta tidak merokok. Lakukan 5S, agar anda memiliki tubuh sehat dan bugar ya sahabat.  (Sumber : https://www.bbc.com/indonesia/majalah-41123048) 

Update terus informasi seputar Pelatihan Perawat dan tenaga kesehatan di www.bandunghealthcare.com FB : Equilibrium Event Planner Twitter : @equilibrium_eep Instagram : Equilibrium Event Planner (@equilibrium_eep) 


Komentar

    Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar